Nama : Rahmat Kurniawan
NIM : 13/346372/PN/13159
Golongan : A5.2
Untuk
menjadi bangsa yang besar dan berkemampuan bersaing dalam kerangka global, maka
diperlukan pendidikan sebagai pijakan dalam membangun logika untuk mencerdaskan
kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia yang memiliki pengetahuan,
budi pekerti dan keterampilan. Pendidikan menjadi sangat penting bagi bangsa
Indonesia dalam segala sektor, karena pendidikan merupakan bagian integral yang
tidak dapat dipisahkan dari proses penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang
berkualitas, tangguh dan terampil sehingga dapat lebih produktif dan berdaya
bersaing tinggi. Dapat dikatakan bahwa kualitas SDM merupakan salah satu faktor
penentu dalam mencapai keberhasilan program pembangunan.
Selanjutnya,
dalam menghadapi era global dengan akselerasi yang cepat maka diperlukan tenaga
kerja yang tidak hanya mempunyai kemampuan bekerja dalam bidangnya,namun juga
sangat penting untuk menguasai kemampuan menghadapi perubahan serta
memanfaatkan perubahan itu sendiri. Sehingga, menjadi tantangan pendidikan
untuk dapat mengintegrasikan kedua macam komponen kompetensi tersebut secara
terpadu agar mampu menyiapkan SDM utuh yang memiliki kemampuan bekerja dan
berkembang pada masa yang akan datang.
Merujuk pada
hal tersebut diatas, dalam rangka menyiapkan SDM Kelautan dan Perikanan yang
mampu menghadapi situasi perubahan saat ini, maka kebijakan Kementerian
Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia
(BSDM KP) yang memiliki Visi “Mencetak SDM Unggul Bagi Pembangunan Kelautan dan
Perikanan yang Berdaya Saing dan Berkelanjutan untuk Kesejahteraan Masyarakat”
dalam menyelenggarakan pendidikan vokasi dipandang sangat tepat untuk
menyedikan tenaga terampil dan ahli perikanan yang kompeten dan berdaya saing. Peran
Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten serta handal menjadi target dan sasaran
prioritas KKP untuk menopang pembangunan ekonomi nasional. Hal senada juga,
menjadi perhatian khusus Pemerintah dalam pengembangan SDM berbasis kompetensi
dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang telah berlaku mulai tahun
ini.
Arah
pendidikan vokasi dengan pendekatan Teaching Factory yang
diselenggarakan pada satuan pendidikan BPSDM KP adalah pengembangan pengetahuan
(knowledge), keterampilan (skill) dan karakter (character building)
dengan porsi sebesar 70% praktek dan 30% teori untuk pendidikan menengah dan
60% praktek dan 40% teori untuk pendidikan tinggi. Teaching Factory
(TEFA) merupakan suatu konsep pembelajaran dalam suasana sesungguhnya, sehingga
dapat menjembatani kesenjangan kompetensi antara kebutuhan industri dan
pengetahuan pada satuan pendidikan. Teknologi pembelajaran yang inovatif dan
praktek produktif merupakan konsep metode pendidikan yang berorientasi pada
manajemen pembelajaran agar selaras dengan kebutuhan dunia industri. Serupa
dengan itu, program Teaching Factory merupakan perpaduan
pembelajaran yang sudah ada yaitu Competency Based Training
(CBT) dengan Production Based Training (PBT), yang dalam
pengertiannya bahwa suatu proses keahlian atau keterampilan (life skill)
dirancang dan dilaksanakan berdasarkan prosedur dan standar bekerja yang
sesungguhnya untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan tuntutan
pasar/konsumen.
Program
pendidikan TEFA pada satuan pendidikan BPSDM KP ini, diarahkan pada upaya
pembentukan dan atau output lulusan yang memiliki keterampilan,
kompetensi, dan profesional di sektor kelautan dan perikanan. Sehingga para
lulusan diharapkan dapat menjadi penggerak potensi kelautan dan perikanan, dan
tenaga kerja yang profesional, baik sebagai pelaku utama muda modern, pelaku
usaha, maupun sebagai tenaga kerja pada dunia usaha dan dunia industri (DU/DI)
di sektor kelautan dan perikanan. Yang kesemuanya itu, diharapkan dapat
menghasilkan impact berupa kesejahteraan pada masyarakat.
Adapun wujud
nyata dari implementasi program pendidikan vokasi melalui pembelajaran TEFA
yang diselanggarakan satuan pendidikan BPSDM KP, yaitu telah terlaksananya
kegiatan Teaching Factory sebagaimana dimaksud. Beberapa bentuk
kegiatan real Teaching Factory yang telah dilaksanakan adalah
sebagai contoh; budidaya udang system busmetik (budidaya udang skala mini pada
empang plastik) oleh SUPM Ladong, pengolahan BATARI (Bandeng Tanpa Duri) oleh
Politeknik KP Sidoarjo, penyusunan Programa Penyuluhan Perikanan oleh STP
Jurluhkan Bogor, dan masih terdapat bentuk kegiatan Teaching Factory lainnya
di 8 (Delapan) SUPM dan 2 (Dua) Politeknik KP pada satuan Pendidikan BPSDM KP.
Budidaya
udang system busmetik SUPM Ladong telah diselenggarakan sejak tahun 2012, dan
merupakan produk unggulan yang melibatkan taruna secara aktif yang turut
didampingi oleh guru sebagai konsultan. Bahkan Teaching Factory
SUPM Ladong ini, telah menjadi rujukan bagi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di
wilayah sekitarnya. Hal ini ditunjukan dengan terjalinnya kerjasama dengan
berbagai SMK untuk pemanfaatan sarana parasarana, sharring knowledge,
maupun peningkatan kompetensi pendidik.
Teaching
Factory pengolahan
BATARI (Bandeng Tanpa Duri) merupakan produk unggulan Politeknik KP Sidoarjo
yang diolah di TEFA pengolahan modern. Produk yang dihasilkan dari praktek
taruna ini adalah sebagai pembelajaran Teaching Factory untuk memperoleh
keterampilan yang handal dalam bidang pengolahan ikan, yang tidak terlepas dari
peran serta Dosen sebagai tenaga pendidik/pendamping dalam menghasilkan BATARI
berkualitas tinggi. Untuk kalangan penikmat rasa di wilayah sekitar dan lingkup
satuan Pendidikan BPSDM KP, produk yang dahulunya dikenal Bandeng Tandu (Tanpa
Duri) ini sudah cukup dikenal dan sudah banyak dikonsumsi. Bukan hanya dikenal
saja, namun hasil praktek peserta didik ini telah berhasil masuk ke pasar retail
modernserta banyak diantara Lembaga, Institusi dan Dharma Wanita yang
berkunjung untuk mempelajari proses pembuatan BATARI tersebut dan bahkan
melakukan program kerja sama. Di awal tahun 2015, Dharma Wanita Persatuan
Provinsi Papua pun berkunjung ke Politeknik KP Sidoarjo untuk mempelajari
Bandeng Tanpa Duri dan bentuk produk unggulan lainnya.
Sedangkan
model pembelajaran Teaching Factory dalam penyusunan Programa
Penyuluhan Perikanan yang dilaksanakan oleh STP Jurluhkan Bogor, yang juga di
motori oleh Pusat Penyuluhan KP bertujuan menghasilkan SDM yang handal dalam
bidang Komunikasi dan Penyuluhan Perikanan untuk menunjang kegiatan pembangunan
perikanan nasional. Kegiatan TEFA ini telah dilaksanakan di Kabupaten Bogor,
Karawang dan Bekasi dengan mendapatkan apresiasi positif dari Pemerintah
Daerah. Dalam pelaksanaannya, taruna menggunakan metode penyuluhan partisipatif
dengan didampingi oleh Penyuluh Perikanan (BP3K/BP4K) serta Dinas Kelautan dan
Perikanan sebagai fasilitator dengan melibatkan pelaku utama perikanan dalam
setiap tahapan kegiatan.
Teaching
Factory penyusunan
programa penyuluhan perikanan dimaksudkan agar taruna dapat membantu melengkapi
konsep Programa Penyuluhan Perikanan yang sudah ada dengan pendekatan wilayah
atau komoditas, mengevaluasi kegiatan pelaksanaan penyuluhan serta
mengaplikasikan cara penyusunan konsep programa penyuluhan perikanan tingkat
Desa, Kecamatan sampai pada tingkat Kabupaten sebagaimana tertuang dalam
Peraturan Menteri KP Nomor. 13 tahun 2011 tentang Pedoman Penyusunan Programa
Penyuluhan Perikanan.
Dari uraian
implementatif diatas, jelas bahwa program Teaching Factory
merupakan langkah positif untuk menyiapkan SDM Kelautan dan Perikanan yang
kompeten dan berdaya saing tinggi serta professional dalam bidangnya. Namun
terlepas dari itu, sebagai suatu proses pembelajaran maka kegiatan evaluasi
sangat penting untuk dilakukan. Hal ini untuk mengetahui sejauh mana
pelaksanaan pembelajaran, seperti halnya hambatan-hambatan apa saja yang
terdapat dalam pelaksanaan Teaching Factory dan hal-hal apasaja yang
harus diperbaiki dan ditingkatkan dalam proses pelaksanaan Teaching Factory,
sehingga program pendidikan yang dilaksanakan dapat dicapai sesuai dengan
tujuan yang diinginkan.
Olehnya itu,
program pendidikan yang bermuara pada peningkatan kompetensi SDM ini perlu
dilakukan secara sistematis, terus menerus, konsisten serta terarah melalui
jalur pendidikan, pelatihan dan penyuluhan dalam bidang kelautan dan perikanan.
Karena esensi proses pendidikan pada dasarnya bersumber dari masyarakat dan
luarannya kembali ke masyarakat, dengan mengacu kepada kebutuhan dan pemecahan
masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Pendidikan dapat dikatakan efektif
apabila mampu menyiapkan lulusan sesuai kepentingan masyarakat, yang bukan
semata-mata menghasilkan nilai dalam proses belajar mengajar.
Penulis :
Dedi Sutisna
http://www.bpsdmkp.kkp.go.id/index.php/detail/150901-095622-upaya-peningkatan-sdm-kelautan-dan-perikanan-melalui-model-pembelajaran-teaching-factory-pada-satuan-pendidikan-kp#sthash.eqH5zoYz.dpuf
