Senin, 29 Agustus 2016

Upaya Peningkatan SDM Kelautan dan Perikanan Melalui Model Pembelajaran Teaching Factory pada Satuan Pendidikan KP

Nama               : Rahmat Kurniawan
NIM                : 13/346372/PN/13159
Golongan        : A5.2






Untuk menjadi bangsa yang besar dan berkemampuan bersaing dalam kerangka global, maka diperlukan pendidikan sebagai pijakan dalam membangun logika untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia yang memiliki pengetahuan, budi pekerti dan keterampilan. Pendidikan menjadi sangat penting bagi bangsa Indonesia dalam segala sektor, karena pendidikan merupakan bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dari proses penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, tangguh dan terampil sehingga dapat lebih produktif dan berdaya bersaing tinggi. Dapat dikatakan bahwa kualitas SDM merupakan salah satu faktor penentu dalam mencapai keberhasilan program pembangunan.
Selanjutnya, dalam menghadapi era global dengan akselerasi yang cepat maka diperlukan tenaga kerja yang tidak hanya mempunyai kemampuan bekerja dalam bidangnya,namun juga sangat penting untuk menguasai kemampuan menghadapi perubahan serta memanfaatkan perubahan itu sendiri. Sehingga, menjadi tantangan pendidikan untuk dapat mengintegrasikan kedua macam komponen kompetensi tersebut secara terpadu agar mampu menyiapkan SDM utuh yang memiliki kemampuan bekerja dan berkembang pada masa yang akan datang.
Merujuk pada hal tersebut diatas, dalam rangka menyiapkan SDM Kelautan dan Perikanan yang mampu menghadapi situasi perubahan saat ini, maka kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BSDM KP) yang memiliki Visi “Mencetak SDM Unggul Bagi Pembangunan Kelautan dan Perikanan yang Berdaya Saing dan Berkelanjutan untuk Kesejahteraan Masyarakat” dalam menyelenggarakan pendidikan vokasi dipandang sangat tepat untuk menyedikan tenaga terampil dan ahli perikanan yang kompeten dan berdaya saing. Peran Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten serta handal menjadi target dan sasaran prioritas KKP untuk menopang pembangunan ekonomi nasional. Hal senada juga, menjadi perhatian khusus Pemerintah dalam pengembangan SDM berbasis kompetensi dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang telah berlaku mulai tahun ini.
Arah pendidikan vokasi dengan pendekatan Teaching Factory yang diselenggarakan pada satuan pendidikan BPSDM KP adalah pengembangan pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill) dan karakter (character building) dengan porsi sebesar 70% praktek dan 30% teori untuk pendidikan menengah dan 60% praktek dan 40% teori untuk pendidikan tinggi. Teaching Factory (TEFA) merupakan suatu konsep pembelajaran dalam suasana sesungguhnya, sehingga dapat menjembatani kesenjangan kompetensi antara kebutuhan industri dan pengetahuan pada satuan pendidikan. Teknologi pembelajaran yang inovatif dan praktek produktif merupakan konsep metode pendidikan yang berorientasi pada manajemen pembelajaran agar selaras dengan kebutuhan dunia industri. Serupa dengan itu, program Teaching Factory merupakan perpaduan pembelajaran yang sudah ada yaitu Competency Based Training (CBT) dengan Production Based Training (PBT), yang dalam pengertiannya bahwa suatu proses keahlian atau keterampilan (life skill) dirancang dan dilaksanakan berdasarkan prosedur dan standar bekerja yang sesungguhnya untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan tuntutan pasar/konsumen.
Program pendidikan TEFA pada satuan pendidikan BPSDM KP ini, diarahkan pada upaya pembentukan dan atau output lulusan yang memiliki keterampilan, kompetensi, dan profesional di sektor kelautan dan perikanan. Sehingga para lulusan diharapkan dapat menjadi penggerak potensi kelautan dan perikanan, dan tenaga kerja yang profesional, baik sebagai pelaku utama muda modern, pelaku usaha, maupun sebagai tenaga kerja pada dunia usaha dan dunia industri (DU/DI) di sektor kelautan dan perikanan. Yang kesemuanya itu, diharapkan dapat menghasilkan impact berupa kesejahteraan pada masyarakat.
Adapun wujud nyata dari implementasi program pendidikan vokasi melalui pembelajaran TEFA yang diselanggarakan satuan pendidikan BPSDM KP, yaitu telah terlaksananya kegiatan Teaching Factory sebagaimana dimaksud. Beberapa bentuk kegiatan real Teaching Factory yang telah dilaksanakan adalah sebagai contoh; budidaya udang system busmetik (budidaya udang skala mini pada empang plastik) oleh SUPM Ladong, pengolahan BATARI (Bandeng Tanpa Duri) oleh Politeknik KP Sidoarjo, penyusunan Programa Penyuluhan Perikanan oleh STP Jurluhkan Bogor, dan masih terdapat bentuk kegiatan Teaching Factory lainnya di 8 (Delapan) SUPM dan 2 (Dua) Politeknik KP pada satuan Pendidikan BPSDM KP.
Budidaya udang system busmetik SUPM Ladong telah diselenggarakan sejak tahun 2012, dan merupakan produk unggulan yang melibatkan taruna secara aktif yang turut didampingi oleh guru sebagai konsultan. Bahkan Teaching Factory SUPM Ladong ini, telah menjadi rujukan bagi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di wilayah sekitarnya. Hal ini ditunjukan dengan terjalinnya kerjasama dengan berbagai SMK untuk pemanfaatan sarana parasarana, sharring knowledge, maupun peningkatan kompetensi pendidik.
Teaching Factory pengolahan BATARI (Bandeng Tanpa Duri) merupakan produk unggulan Politeknik KP Sidoarjo yang diolah di TEFA pengolahan modern. Produk yang dihasilkan dari praktek taruna ini adalah sebagai pembelajaran Teaching Factory untuk memperoleh keterampilan yang handal dalam bidang pengolahan ikan, yang tidak terlepas dari peran serta Dosen sebagai tenaga pendidik/pendamping dalam menghasilkan BATARI berkualitas tinggi. Untuk kalangan penikmat rasa di wilayah sekitar dan lingkup satuan Pendidikan BPSDM KP, produk yang dahulunya dikenal Bandeng Tandu (Tanpa Duri) ini sudah cukup dikenal dan sudah banyak dikonsumsi. Bukan hanya dikenal saja, namun hasil praktek peserta didik ini telah berhasil masuk ke pasar retail modernserta banyak diantara Lembaga, Institusi dan Dharma Wanita yang berkunjung untuk mempelajari proses pembuatan BATARI tersebut dan bahkan melakukan program kerja sama. Di awal tahun 2015, Dharma Wanita Persatuan Provinsi Papua pun berkunjung ke Politeknik KP Sidoarjo untuk mempelajari Bandeng Tanpa Duri dan bentuk produk unggulan lainnya.     
Sedangkan model pembelajaran Teaching Factory dalam penyusunan Programa Penyuluhan Perikanan yang dilaksanakan oleh STP Jurluhkan Bogor, yang juga di motori oleh Pusat Penyuluhan KP bertujuan menghasilkan SDM yang handal dalam bidang Komunikasi dan Penyuluhan Perikanan untuk menunjang kegiatan pembangunan perikanan nasional. Kegiatan TEFA ini telah dilaksanakan di Kabupaten Bogor, Karawang dan Bekasi dengan mendapatkan apresiasi positif dari Pemerintah Daerah. Dalam pelaksanaannya, taruna menggunakan metode penyuluhan partisipatif dengan didampingi oleh Penyuluh Perikanan (BP3K/BP4K) serta Dinas Kelautan dan Perikanan sebagai fasilitator dengan melibatkan pelaku utama perikanan dalam setiap tahapan kegiatan.
Teaching Factory penyusunan programa penyuluhan perikanan dimaksudkan agar taruna dapat membantu melengkapi konsep Programa Penyuluhan Perikanan yang sudah ada dengan pendekatan wilayah atau komoditas, mengevaluasi kegiatan pelaksanaan penyuluhan serta mengaplikasikan cara penyusunan konsep programa penyuluhan perikanan tingkat Desa, Kecamatan sampai pada tingkat Kabupaten sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri KP Nomor. 13 tahun 2011 tentang Pedoman Penyusunan Programa Penyuluhan Perikanan.
Dari uraian implementatif diatas, jelas bahwa program Teaching Factory merupakan langkah positif untuk menyiapkan SDM Kelautan dan Perikanan yang kompeten dan berdaya saing tinggi serta professional dalam bidangnya. Namun terlepas dari itu, sebagai suatu proses pembelajaran maka kegiatan evaluasi sangat penting untuk dilakukan. Hal ini untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan pembelajaran, seperti halnya hambatan-hambatan apa saja yang terdapat dalam pelaksanaan Teaching Factory dan hal-hal apasaja yang harus diperbaiki dan ditingkatkan dalam proses pelaksanaan Teaching Factory, sehingga program pendidikan yang dilaksanakan dapat dicapai sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
Olehnya itu, program pendidikan yang bermuara pada peningkatan kompetensi SDM ini perlu dilakukan secara sistematis, terus menerus, konsisten serta terarah melalui jalur pendidikan, pelatihan dan penyuluhan dalam bidang kelautan dan perikanan. Karena esensi proses pendidikan pada dasarnya bersumber dari masyarakat dan luarannya kembali ke masyarakat, dengan mengacu kepada kebutuhan dan pemecahan masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Pendidikan dapat dikatakan efektif apabila mampu menyiapkan lulusan sesuai kepentingan masyarakat, yang bukan semata-mata menghasilkan nilai dalam proses belajar mengajar.
Penulis : Dedi Sutisna

http://www.bpsdmkp.kkp.go.id/index.php/detail/150901-095622-upaya-peningkatan-sdm-kelautan-dan-perikanan-melalui-model-pembelajaran-teaching-factory-pada-satuan-pendidikan-kp#sthash.eqH5zoYz.dpuf

Minggu, 28 Agustus 2016

RI-Vietnam Jajaki Kerja Sama Bidang Teknologi Pertanian...

RI-Vietnam Jajaki Kerja Sama Bidang Teknologi Pertanian


Liputan6.com, Jakarta - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto jajaki peningkatan kerja sama Indonesia dengan Vietnam dalam sektor industri.‎ Penjajakan ini dicapai usai Airlangga bertemu dengan Wakil Menteri Perindustrian dan Perdagangan Vietnam Nguyen Cam Tu yang membawa delegasi VEAM Corp di Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Kamis 25 Agustus 2016.
Airlangga menjelaskan, VEAM Corp merupakan BUMN di bawah Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Vietnam yang bergerak di bidang manufaktur, permesian dan alat pertanian, truk dan bis, serta komponen.
Dia menyatakan, ‎Indonesia akan membuka peluang kerja sama industri dengan Vietnam, khususnya pada pengembangan teknologi. “Hal ini didukung oleh fasilitas riset di sektor agro dan permesinan yang dimiliki balai-balai di bawah Kementerian Perindustrian," ujar dia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (26/8/2016).
Kerja sama kedua negara akan difokuskan pada industri permesinan yang berbasis di sektor pertanian. Alasannya, beberapa perusahaan di Indonesia sudah menguasai teknologi baik pra panen dan pasca panen.
“Indonesia juga menguasai teknologi pengolahan agrikultur untuk produk-produk seperti kakao, CPO, karet dan hortikultura. Di Indonesia ada asosiasi alat Mesin Pertanian Indonesia (alsintan) yang memiliki sebanyak 30 anggota," kata dia.
Menurut Airlangga, industri alat mesin pertanian (alsintan) di Indonesia telah memiliki kemampuan memproduksi traktor tangan, traktor kecil hingga sedang, pompa irigasi, mesin bajak yang digunakan untuk tahap pra panen.
“Sedangkan untuk pascapanen seperti mesin pengering. Namun baru 35 persen produk alsintan di Indonesia yang diproduksi oleh perusahaan dalam negeri," ungkap dia.
Kemenperin mencatat, industri alsintan Indonesia tumbuh 261 persen pada 2015 dengan nilai US$ 26,6 juta. Tujuan ekspor utamanya ke Nigeria, Malaysia, Amerika Serikat, Filipina, Venezuela and Timor Leste. Di sisi lain, Indonesia mengimpor untuk produk-produk alsintan sebesar US$ 45.3 juta pada 2015.
Dengan adanya kerja sama ini, Airlangga berharap akan berdampak pada peningkatan neraca perdagangan kedua negara, dari US$ 6 miliar pada 2015 menjadi US$ 10 miliar pada 2018.
"Indonesia dan Vietnam punya kemiripan industri dan kemiripan pangsa ekspor, jadi sebaiknya saling melengkapi. Ekspor Indonesia ke Vietnam diantaranya produk kimia, permesinan, komponen elektronika, dan komponen mesin. Sedangkan impor dari Vietnam, antara lain tekstil, beras, alas kaki dan karet untuk kebutuhan industri," tandas dia. (Dny/Gd)

Sumber : RI-Vietnam Jajaki Kerja Sama Bidang Teknologi Pertanian

Reepost: Fitri Ginarti

NIM : 13211
GOL: A5.2


Fungsi dan Peranan Hutan Mangrove



Sumber : www.pusluh.kkp.go.id

Hutan mangrove (bakau) adalah tipe hutan yang khas terdapat di sepanjang pantai atau muara sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut.  Hutan mangrove ini sering juga disebut dengan hutan pantai, hutan pasang surut, hutan payau atau hutan bakau.  Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi pantai tropis yang didominasi oleh beberapa jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang pada daerah pasang surut pantai berlumpur dan ditemukan pada pantai-pantai teluk yang dangkal, estuaria, delta dan daerah pantai terlindung (Bengen, 1999).
Ada 4 (empat) cara untuk mengenal jenis mangrove antara lain bertanya kepada ahlinya, mencocokkan dengan herbarium yang telah diidentifikasi, membandingkan dengan gambar dan deskripsi yang terdapat pada literature dan menggunakan kunci identifikasi.
Menurut Noor et al (1999) di dalam Rachmad (2011), mangrove memiliki berbagai macam manfaat bagi kehidupan manusia dan lingkungan sekitarnya.  Bagi masyarakat pesisir, pemanfaatan mangrove untuk berbagai tujuan telah dilakukan sejak lama.  Akhir-akhir ini, peranan mangrove bagi lingkungan sekitarnya dirasakan sangat besar setelah berbagai dampak merugikan dirasakan di berbagai tempat akibat hilangnya mangrove. Secara umum, fungsi dan peranan hutan mangrove terhadap manusia dan lingkungannya dapat diuraikan sebagai berikut :
  • ·         Melindungi pantai dari erosi dan abrasi
  • ·         Melindungi pemukiman penduduk dari terpaan  badai dan angin dari laut
  • ·         Mencegah intrusi air laut
  • ·         Tempat hidup dan berkembang biak berbagai satwa liar seperti ikan, udang, kepiting, burung, monyet, dsb.
  • ·         Memiliki potensi edukasi dan wisata
  • ·         Mitigasi perubahan iklim melalui penyerapan co2 dari udara, dll.

Banyak bencana dan kerugian yang terjadi akibat rusak/hilangnya hutan bakau, seperti: abrasi pantai, intrusi air laut, banjir, hancurnya pemukiman penduduk diterpa badai laut, hilangnya sumber perikanan alami, hilangnya kemampuan dalam meredam emisi gas rumah kaca. Hal tersebut, umumnya disebabkan oleh :
  • ·         Pengambilan/penebangan hutan bakau secara berlebihan
  • ·         Pengalihfungsian hutan mangrove menjadi areal tambak, pemukiman ataupun pertanian dengan tidak memperhatikan asas konservasi dan berkesinambungan
  • ·         Membiarkan wilayah pesisir tandus dan gersang tanpa adanya upaya penghijauan (misal dengan tanaman bakau)

Indonesia memiliki kawasan pesisir sangat luas yang ditumbuhi berbagai jenis tanaman pantai seperti hutan bakau (Indonesia merupakan negara tropis dengan hutan bakau terluas di dunia, sekitar 3,2 juta ha). Namun sangat disayangkan, sejak pertengahan tahun 1980-an, hampir sebagian besar kawasan pesisir di Indonesia telah mengalami kerusakan cukup parah terutama diakibatkan oleh pengalihfungsian hutan pantai menjadi lahan pertambakan dan peruntukan lainnya.
Untuk mengembalikan fungsi, manfaat serta jasa-jasa lingkungan ekosistem hutan bakau dan hutan pantai lainnya, diperlukan upaya-upaya rehabilitasi dan pengelolaan pesisir yang tepat dan benar, salah satunya adalah dengan menerapkan konsep tambak ramah lingkungan atau sering disebut sebagai budidaya tambak yang melestarikan bakau sebagai jalur hijau atau penanaman mangrove di tambak (silvofishery). Adapun manfaat yang akan diperoleh dari sistem ini antara lain sebagai berikut:
  • ·         Kontruksi pematang tambak menjadi lebih kuat karena akan terpegang akar-akar bakau;
  • ·         Pejalan kaki akan nyaman berjalan di atas pematang karena dirimbuni tajuk tanaman bakau;
  • ·         Daun bakau dapat digunakan sebagai makanan untuk ternak (khususnya, kambing), dan buahnya dapat dijadikan berbagai macam penganan manusia (seperti selai, kripik dll)
  • ·         Bakau akan mengurangi dampak bencana alam seperti badai dan gelombang air pasang, sehingga kegiatan-kegiatan usaha maupun pemukiman disekitarnya dapat terselamatkan.
  • ·         Keanekaragaman hayati akan meningkat (termasuk bibit ikan alam dan kepiting), yang akan meningkatkan juga pendapatan petani ikan;
  • ·         Mencegah erosi pantai dan intrusi air laut ke darat, sehingga pemukiman dan sumber air tawar dapat terjaga dan dipertahankan;
  • ·         Kualitas air tambak menjadi lebih baik, karena fungsi perakaran  bakau dapat ‘menyaring’ limbah padat dan mikroba yang terdapat pada lantai hutan bakau dan dapat mendekomposisi bahan organik yang berasal dari kegiatan budidaya maupun dari luar tambak;
  • ·         Terciptanya sabuk hijau pesisir (coastal green belt) serta ikut mendukung program mitigasi dan adaptasi perubahan iklim global karena bakau akan mengikat (sequester) CO2 dari atmosfer dan melindungi kawasan pemukiman dari kecenderungan naiknya muka air laut;

Mengingat betapa pentingnya fungsi dan peranan mangrove bagi kehidupan manusia, maka alangkah lebih bijaknya jika jika seyogyanya memelihara, melindungi dan melestarikan hutan mangrove ini, dengan menjaga dan tidak menebangnya.
Mari kita lestarikan Hutan Mangrove Kita…!!!

Nama : Dityo Hendyawan
NIM: 13766
Gol : A.5.2

Sumber :
Eko Prio Raharjo,S.Pi
Penyuluh Perikanan Kab. Tanah bumbu, Kalsel


Inikah Kondisi Pertanian Indonesia Saat Ini ?

Liputan6.com, Jakarta Alumnus Fakultas Pertanian Universitas Satya Gama Medy Pramady menanggapi komentar negatif Prof Dr Dwi Andreas Santosa tentang pembangunan pertanian khususnya pangan setahun masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) – Jusuf Kalla (JK) di berbagai media massa.

Menurut Medy, tidak hanya karena konsistensi komentarnya yang sangat tajam dari sudut pandang negatif, tetapi juga kemunculannya yang tiba-tiba sejak era pemerintahan Jokowi-JK, dari sebelumnya yang nyaris tidak pernah terdengar namanya.

Medy awalnya menduga Prof Andreas bagian dari barisan sakit hati yang kalah dalam pemilu, namun ternyata dugaannya tersebut meleset. Namun, menurut Medy beberapa pernyataan Prof Andreas yang harus diklarifikasi karena tidak sesuai dengan data dan fakta di lapangan.

Pertama, soal keraguan peningkatan produksi. Profesor pertanian Dwi Andreas Santosa dalam sebuah artikel yang dimuat di salah satu media massa tanggal 12 Januari 2015 (Investor Daily) menyebut kemunduran musim tanam merupakan salah satu faktor penyebab produksi tahun ini tidak akan meningkat signifikan dari tahun lalu.

“Memang benar musim tanam mengalami kemunduran selama 1,5 bulan karena kekeringan yang melanda akhir tahun lalu. Tapi dalam kurun musim tanam Oktober-Maret, luas tanam tercatat mengalami kenaikan hingga 400.000 hektare,” jelas Medy.

Data yang dihimpun dari Kementerian Pertanian (Kementan) menunjukkan, lahan yang terdampak banjir dan hama hingga Juli yaitu 52.000 ha, turun dari periode sama tahun sebelumnya yaitu 159.000 ha.

“Data ini sekaligus menjawab rekomendasi Andreas yang di salah satu surat kabar tertanggal 2 Juli 2015 (Kompas) yang menyebut peningkatan luas lahan tanam harus dilakukan untuk meningkatkan produksi,” ujarnya.
Kedua, soal el nino. Di tengah perjalanan, kabar akan kedatangan el nino pun merebak. Angin kering ini tiba di Tanah Air pada akhir Juli lalu. Dicemati kedatangannya sejak tahun lalu, Kementan pun memutuskan ‘curi start’ untuk membagikan pompa air.

“Sejak awal Juli Kementan telah membagikan sedikitnya 20.000 pompa air ke daerah-daerah yang endemis kekeringan. Kementan menggelontorkan dana hingga Rp 800 miliar dari pergeseran APBN untuk pembagian pompa air tersebut,” terang Medy.

Medy menambahkan, hingga akhir September, gagal panen atau puso akibat kekeringan tercatat seluas 114.707 ha. Untuk membantu petani yang terkena puso, Kementan menyiapkan bantuan benih dan pupuk untuk tanam kembali seluas 105.000 ha.

Fakta berikutnya yaitu menurut BMKG, lanjut Medy, el nino yang muncul tahun ini lebih berat dari yang terparah sebelumnya yaitu pada tahun 1997. Saat itu, penduduk Indonesia masih berjumlah 205 juta jiwa dan Indonesia mengimpor beras hingga 7,1 juta ton.

“Tahun ini, hingga detik ini realisasi impor beras belum ada dan rencana impor beras hanya untuk berjaga-jaga karena el nino yang semakin mengkhawatirkan,” tambahnya.
Ketiga, soal keterlambatan benih dan pupuk tiba di petani. Medy menjelaskan, saat usia kepemimpinan Menteri Pertanian masih dua minggu, memutuskan menghadap Presiden untuk mengubah regulasi terkait penyaluran benih, pupuk dan alat mesin pertanian (alsintan) yang selama ini selalu menghambat peningkatan produksi pangan.

“Sebelumnya, pengadaan benih, pupuk dan alsintan harus melalui tender, namun sekarang dapat ditunjuk langsung. Mentan pernah mengatakan, potensi produksi bisa menurun kalau ketiga faktor ini datang terlambat. Jokowi pun menyetujui regulasi itu diubah,” paparnya.

Artinya, terang Medy, ada upaya agar ketepatan penyaluran benih terus diperbaiki. Sampai saat ini, keluhan mengenai keterlambatan penyaluran kian berkurang. Menurut keterangan Andreas dalam sebuah mingguan tertanggal 14 April (Agro Indonesia), 50% benih bersubsidi tidak digunakan petani karena selalu datang terlambat.

Keempat, ada pula masukan soal panjangnya rantai distribusi. Dalam sebuah surat kabar yang terbit pada 26 Mei 2015, Andreas menyebut rantai pasokan beras masih panjang sehingga harganya tinggi dan sulit dikendalikan jika ada lonjakan.

Medy mencatat, persoalan rantai pasok sesungguhnya merupakan tupoksi Kementerian Perdagangan. Tapi patut dicatat, Kementan memiliki upaya tersendiri, yaitu pendirian Toko Tani Indonesia (TTI).

“TTI diyakini akan memangkas rantai pasokan menjadi 3-4 titik dari sebelumnya 7-8 titik. Sampai sekarang, ada sedikitnya 100 TTI tersebar di Jabodetabek,” ungkap Medy.

Medy menambahkan, dalam rencana anggaran 2016 yang diajukan ke Komisi IV DPR RI, Kementan mengalokasikan Rp 200 miliar untuk pembangunan 1.000 TTI sepanjang tahun depan.

Pola TTI yaitu memperbesar peran Perum Bulog sebagai penyedia stok pangan. Bulog nantinya akan menyerap langsung dari petani dan akan disuplai ke TTI seluruh Indonesia.
Lalu yang kelima, soal impor bawang merah. Dalam surat kabar tertanggal 9 Juni 2015 (Sinar Harapan), Andreas menyebut pemerintah harus berhati-hati dengan para spekulan bawang merah dan jangan sampai memutuskan impor.

Situasinya saat menjelang Ramadhan dan saat Ramadhan memang harga bawang merah di pasar amat tinggi, mencapai Rp 40.000 per kilo gram. Jika melihat hukum supply and demand, jelas semua kalangan menilai ada kekurangan pasokan di pasar.

Kala itu, rapat kabinet memutuskan impor bawang merah harus dilakukan. Mentan lalu meminta penangguhan dua hari untuk terbang ke Bima dan NTB, membeli bawang merah di tingkat petani sebesar Rp 6.000-Rp 7.000 per kilo gram, lalu mengguyur pasar Jakarta.

“Harga komoditas itu langsung terkerek hingga Rp 17.000 per kilo gram. Kita bahkan ekspor bawang merah 4.500 ton,” ujarnya.

Dirjen Hortikultura Spudnik Sudjono memiliki cara lain. Sembari membangun infrastruktur, dia menyusun pola tanam bawang merah agar dapat dipanen sepanjang tahun. Komitmennya, sepanjang 2016 kita tidak akan lagi impor bawang merah.

Keenam, soal ketidakakuratan data. Andreas menyebut data produksi dan konsumsi saat ini tidak akurat (Republika, 23 Maret 2015).

Selama ini, data yang digunakan oleh Kementan merupakan data lapangan dan data yang dirilis oleh BPS. Menanggapi hal ini, Kementan pun mengundang sejumlah ekonom pertanian untuk melakukan kalibrasi data. Pasalnya, data merupakan dasar dalam menentukan kebijakan.

“Urusan data, negara telah memberikan tugas ini pada BPS. Setiap tahunnya, triliunan dana mengalir ke lembaga tersebut. BPS telah terbentuk 1957 dan merupakan lembaga statistik satu-satunya Tanah Air,” tegas Medy.

Terakhir, soal kebijakan impor. Dalam surat kabar tertanggal 29 Oktober 2015 (Koran Tempo), Andreas menyebut Indonesia telah mengimpor beras sebanyak 222.000 ton pada semester pertama tahun ini. Adapun, volume yang juga dipublikasikan oleh BPS ini sesungguhnya merupakan impor beras khusus untuk kebutuhan Rumah Sakit yang rekomendasi impornya diterbitkan oleh Kementerian Perindustrian.
Di lapangan, panen masih berlangsung di daerah-daerah di atas khatulistiwa dan meski dilanda puso, Jawa Barat masih menjadi penyumbang beras terbesar di Pasar Induk Cipinang. Sepekan terakhir, harga beras bahkan turun Rp 500-Rp 700 merespons pasokan yang masih melimpah.

Dalam artikel yang sama, secara tendensius Andreas menyatakan, sudah saatnya pemerintah Jokowi berhenti beretorika dan pencitraan melalui berbagai pernyataan yang tidak didasari fakta dan data yang akurat.

“Kami berfikir bahwa pernyataan Prof Andreas tersebut sebagai akademisi harus juga didukung oleh data yang akurat. Selain itu juga Prof Andreas harus lebih meningkatkan pemahaman akan kondisi lapangan yang lebih komprehensif sehingga pemikiran-pemikiran yang cemerlang akan lebih banyak memberikan kontribusi yang positif terhadap kemajuan bangsa dan penyelesaian masalah pangan nasional secara sinergis,” tutur Medy.

“Betapa mirisnya hati ini, ketika yang berkomentar itu seorang profesor yang seharusnya memberikan solusi pembangunan tidak hanya kritik. Saya khawatir gelar tertinggi akademisi yang disandangnya akan menimbulkan preseden negatif terhadap citra akademisi yang selalu menjujung tinggi hakekat kebenaran dan kejujuran,” lanjut Medy.

Medy menyarankan, lebih baik kita bekerja, bekerja, dan bekerja untuk bangsa, dan jangan menzolimi teman-teman yang sungguh-sungguh bekerja untuk orang kecil, buruh tani.

“Kalau kita tidak bisa membantu, ya minimal diam lah dan berdoa agar bangsa ini tetap maju karena yang kita hadapi ke depan adalah persiangan antarnegara, baik regional maupun global sebagai konsep inti dari era globalisasi,” pungkasnya.

Rizki Reza P
14/369404/PN/13908 - A.5.2
Sumber : bisnis.liputan6.com